desain arsitektur art deco kota bandung yang menghiasi KAA


1Jalan Braga

Keindahan Kota Bandung yang menjadi alasan dilaksanakannya KAA memiliki beragam alasan. Tinjau yuk dari segi arsitekturnya?

iDEAonline.co.id – Konferensi Tingkat Tinggi Asia–Afrika (disingkat KTT Asia Afrika atau KAA ; kadang juga disebut Konferensi Bandung) adalah sebuah konferensi antara negara-negara Asia dan Afrika, berlangsung antara 18 April-24 April 1955, di Gedung Merdeka, Bandung. Yuk coba bahas Art Deco yang menghiasi Kota Bandung.

Bandung menjadi wilayah  disorot oleh media sekitar seminggu ini. Salah satunya Jalan yang menjadi sorotan adalah Jalan Asia Afrika dan Jalan Braga.

Arsitektur yang berada di Jalan Asia Afrika dan Jalan Braga memiliki beberapa unsur Art Deco. Workmanship Deco adalah seni visual yang pertama kali muncul di Perancis setelah Perang Dunia I dan mulai berkembang secara internasional pada tahun 1920, 1930 dan 1940-a sebelum popularitasnya memudar setelah Perang Dunia II.

art Deco adalah gaya eklektik yang menggabungkan theme kerajinan tradisional dengan Mesin dan bahan. Gaya ini sering ditandai dengan warna yang kaya, bentuk geometris tebal dan ornamen mewah.

Yuk kita intip beberapa macam gaya Art Deco yang di tampilkan oleh sisi kota Bandung.

1: Jalan Braga

Jalan Braga adalah nama sebuah jalan utama di kota Bandung, Indonesia. Nama jalan ini cukup dikenal sejak masa pemerintahan Hindia-Belanda. Sampai saat ini nama jalan tersebut tetap dipertahankan sebagai salah satu maskot dan obyek wisata kota Bandung yang dahulu dikenal sebagai Parijs van Java.

Konon orang Belanda yang tinggal di Bandung pada masa itu sangat menggandrungi dan mengikuti gaya hidup orang Perancis, dan apa yang sedang menjadi tren di Paris pada saat itu juga akan menjadi tren di toko-toko yang ada di jalan Braga.

Walaupun tidak semuanya tersisa, sepanjang jalan Braga saat ini masih bisa kita temui bangunan-bangunan tua yang dengan sedikit imajinasi seolah dapat membawa kita kembali ke jaman Braga rhythm dulu. Pemerintah kota Bandung juga telah merubah jalan beraga yang sebelumnya menggunakan aspal biasa menjadi batu alam sehingga memberikan kesan yang lebih menarik.

Di sisi kanan kiri Jalan Braga terdapat kompleks pertokoan yang memiliki arsitektur dan tata kota yang tetap mempertahankan ciri arsitektur lama pada masa Hindia Belanda. Tata letak pertokoan tersebut mengikuti model yang ada di Eropa sesuai dengan perkembangan kota Bandung pada masa itu (1920-1940-a) sebagai kota mode yang cukup termasyhur seperti halnya kota Paris pada saat itu.

2 : Hotel Savoy Homann

Digital image
Digital image

Savoy Homann  bintang empat yang berada di Jl. Asia-Afrika (dahulu Jalan Raya Pos) No. 112, Cikawao, Lengkong, Bandung, Jawa Barat, Indonesia. Lodging ini dikenal akan arsitektur dan tamu-tamunya.

Pendahulu inn ini adalah Hotel Homann, milik keluarga Homann, yang dikenal akan sajian rijsttafel buatan Ibu Homann yang lezat. Pada tahun 1939, bangunan yang sekarang dirancang dengan desain gelombang samudera bergaya art deco karya Albert Aalbers.

Untuk menegaskan kebesarannya, kata “Savoy” ditambahkan, yang ditambahkan pada tahun 1940 dan tetap demikian hingga tahun 1980-an. Kemudian dilakukan modifikasi kecil-kecilan (pintu masuk diperbesar, pembuatan can di jalan masuk, penambahan AC di depan).  memiliki pekarangan dalam (jauh dari jalan raya), dan tamu dapat menikmati sarapan di udara terbuka.

Setelah Kemerdekaan Indonesia, diambil alih oleh grup inn Bidakara, sehingga namanya bertambah menjadi Savoy Homann Bidakara Hotel

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s